iklan

Minggu, 01 Februari 2015

FENOMENA SEKTOR INFORMAL DI PERKOTAAN (JAKARTA DAN SURABAYA)

FENOMENA SEKTOR INFORMAL DI PERKOTAAN 
(JAKARTA DAN SURABAYA)


Sektor informal, khususnya di negara dunia ketiga seperti Indonesia, bagaimanapun juga tidak bisa diremehkan keberadaannya. Dengan kejelian dan kreativitas yang muncul dari para pelakunya, sektor informal memiliki daya tahan yang luar biasa terhadap krisis. Dengan perputaran modal yang –jika diakumulasikan—sangat besar, hasil (keuntungan) yang didapatkannya relatif bisa terdistribusikan secara luas, serta dengan daya serap tenaga kerja yang tinggi, sektor informal sesungguhnya telah berperan sebagai penggerak utama roda perekonomian Indonesia

Ada beberapa karakteristik yang dapat dikategorikan sebagai usaha sektor informal, di antaranya adalah sebagai berikut ini :
a. Mudah untuk dimasuki;
b. Bersandar pada sumber daya lokal;
c. Usaha milik sendiri;
d. Operasinya dalam skala kecil;
e. Padat karya dan teknologinya bersifat adaptif;
f. Keterampilan dapat diperoleh diluar sistem sekolah formal;
g. Tidak terkena secara langsung oleh Regulasi dan pasarnya bersifat kompetitif.

Fenomena sektor informal di Indonesia, memang bukan hal baru. Namun, hal penting yang patut dicermati adalah geliat mereka yang tak pernah padam. Selama ini, sektor informal bahkan dianggap sebagai katup pengaman yang efektif bagi perekonomian masyarakat bawah untuk tetap survive menghadapi kesulitan hidup yang terus membelit mereka. Dengan kejelian dan daya kreatifnya, mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan--setidaknya bagi diri mereka sendiri-- yang tidak terduga. Siapa yang mengira, jasa ojek payung, semir sepatu, tukang patri, tukang angkut kayu, dan lain sebagainya dapat tetap bertahan di situasi dan kondisi dewasa ini.


Selasa, 23 Desember 2014

REAL EXCHANGE RATE MISALIGNMENT DAN PERTUMBUHAN EKONOMI: STUDI KASUS ASEAN-5

REAL EXCHANGE RATE MISALIGNMENT DAN PERTUMBUHAN EKONOMI: STUDI KASUS ASEAN-5

HAZINDI DAMAISTY

ABSTRACT

Real exchange rate misalignment has been an important issue of economic literature. This paper uses Behavioral Equilibrium Exchange Rate (BEER) method to identify misalignment episode of 4 Asean countries. The results show that equilibrium exchange rate is affected by net foreign assets, real interest rate differential and terms of trade.
As according to this research’s purpose, the estimation result show there are no significant effect of real exchange rate misalignment on ASEAN-4 countries’s economic growth. But, the results show that exchange rate depreciation significantly has negative effect on economic growth. The estimation results also show that gross fixed capital formation significantly affects economic growth.

Keywords : Real Exchange Rate Misalignment, BEER, Economic Growth, VECM, Panel, ASEAN-5
1.      Pendahuluan
Krisis keuangan Asia telah menjadi salah satu peristiwa ekonomi yang paling serius dari ke empat gelombang krisis yang melanda pasar modal internasional selama tahun 1990-an. Krisis yang dimulai dari perlambatan pertumbuhan ekonomi pada tahun 1996 oleh semua negara di Asia kecuali Filipina ini menyebabkan guncangan terhadap mata uang negara-negara di Asia. Runtuhnya baht Thailand pada bulan juli 1997 memicu gelombang depresiasi dan penurunan pasar saham negara-negara di Asia lainnya (Moreno, et al, 1998). Majid dan Yusoff (2004) menyatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah exchange rate misalignment yang meningkatkan kemungkinan serangan spekulatif yang akhirnya menyebabkan krisis terjadi. Aguirre dan Calderon (2005) juga menjelaskan bahwa exchange rate misalignment adalah salah satu indikator kunci dalam mengidentifikasi kerentanan suatu negara. Khususnya overvaluation nilai tukar riil yang berkelanjutan merupakan indikator peringatan dini atas kemungkinan terjadinya currency crashes (Krugman, 1979; Frankel dan Rose 1996; Kaminsky dan Reinhart, 1999 dalam Aguirre dan Calderon, 2005)

Selasa, 15 April 2014

Review Literatur: Pengaruh Foreign Direct Investment (FDI) Terhadap Perekonomian Domestik

PENDAHULUAN
            Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kesatuan pasar yang semakin terintegrasi tanpa rintangan batas teritorial negara. Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas suatu negara akan menjadi kabur dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif dan masuknya produk–produk global ke pasar domestik, hal ini juga menimbulkan peluang masuknya investasi asing pada perekonomian domestik
            Globalisasi dapat berupa perdagangan antar Negara, migrasi para pekerja dan yang paling penting, investasi asing. Investasi asing merupakan manifestasi terpenting dalam proses globalisasi. Banyak Negara yang melakukan berbagai kebijakan untuk menarik investor asing, dengan harapan dapat memberi pengaruh positif untuk meningkatkan manfaat utama dari kenaikan pendapatan nasional. Dalam paper ini, penulis mengkhususkan pada investasi asing yang berupa Foreign Direct Investment (FDI) oleh perusahaan multinasional (Multinational Enterprises/ MNEs).
            Menurut Krugman (1994), FDI adalah arus modal internasional dimana perusahaan dari suatu negara mendirikan/ memperluas perusahaannya di negara lain. Sedangkan menurut World Bank (2013), FDI adalah investasi langsung berupa net inflow dari jumlah modal, reinvestasi pendapatan, modal jangka panjang lainnya, dan modal jangka pendek seperti yang ditunjukkan dalam neraca pembayaran/BoP oleh investor asing. Meningkatkan FDI menjadi peran penting dalam pembangunan ekonomi setiap negara dan kebijakan mengundang FDI merupakan salah satu cara sebuah negara khususnya negara sedang berkembang untuk memenuhi kebutuhan akan teknologi dan modalnya. Di Indonesia, arus FDI yang masuk relatif meningkat setiap tahun. Pada tahun 2008 jumlah aliran FDI yang masuk ke Indonesia sebesar US$ 9.318.453.650 tetapi sempat menurun pada tahun 2009 sebesar US$ 4.877.369.178 karena adanya dampak dari krisis perekonomian dunia. Namun arus FDI kembali meningkat tiap tahunnya hingga tahun 2012 mencapai US$ 19.852,569.230.

Review Question about Optimum Currency Area (OCA)


1.      Apa yang dimaksud dengan Optimum currency area?
Optimum currency area adalah sebuah kawasan yang terdiri dari negara-negara yang berintegrasi dengan  menggunakan mata uang yang sama.

2.      Apa keuntungan dan kerugian dari terlibatnya suatu negara dalam OCA secara teoritis?
Keuntungan:
·         Mengurangi biaya pertukaran/transaksi dan cadangan devisa  serta  koordinasi  kebijakan yang  lebih  efektif  antara  negara anggota
·         Meningkatkan  efisiensi  mikro karena  penggunaan  uang  yang lebih luas
·         Perbaikan  stabilisasi  makro  dan pertumbuhan  karena  stabilitas harga  dan  akses  dana  yang  lebih besar daari integrasi finansial
·         Meningkatkan perdagangan dan investasi karena biaya transaksi yang rendah
·         Memberikan  suatu  jangkar (anchor) nominal untuk kebijakan moneter
·         Memperkecil  volatilitas  dan ketidakpastian nilai tukar
Kerugian:
·         Setiap negara yang tergabung harus menyerahkan kekuasaan dan  kewenangan kebijakan moneternya secara individual kepada Bank Sentral  bersama untuk merespon masalah ekonomi dalam negerinya
·         Beberapa kelemahan  di tingkat mikro, terutama pada tahap awal integrasi
·         Terbatasnya pilihan  instrumen kebijakan untuk stabilitas ekonomi makro
·         Kehilangan seignorage (penciptaan  uang) untuk negara-negara dengan inflasi tinggi

Review Jurnal Foreign DIrect Investment (3)

Host Country Impacts Of Inward Fdi: Why Such Different Answers?
Robert E. Lipsey & Fredrik Sjöholm
      Banyak penelitian yang berkembang tentang bagaimana FDI berdampak pada negara-negara dan hasilnya sangat beragam seperti contohnya, produksi barang dan jasa kualitasnya lebih bagus dari sebelumnya, harganya lebih murah atau output yang meningkat karena ada aliran modal yang masuk. Perhatian dikhususkan pada investasi langsung, apakah dengan adanya FDI menjadi spillover ke domestik? Lalu apakah perusahaan asing membayar tinggi pekerja domestik? Sehingga menaikkan gaji rata-rata domestik.

Review Jurnal Foreign Direct Investment (2)

Liberalization policy over foreign direct investment and the promotion of local firms development in Indonesia

Mohamad S. Imana, dan Akiya Nagata

            Meningkatkan FDI menjadi peran penting dalam pembangunan ekonomi setiap negara dan mengundang FDI merupakan salah satu cara sebuah negara khususnya negara sedang berkembang untu memenuhi kebutuhan akan teknologi dan modalnya. Dalam kasus Indonesia, sejak perubahan rezim perdagangan dari substitusi impor ke orientasi ekspor pada pertengahan 1980, dikuranginya hambatan dalam investasi dan impor serta local content melalui FDI dengan harapan akan menarik FDI lebih banyak dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki kemampuan teknologinya.
            Kebijakan liberalisasi memberikan perusahaan FDI kebebasan untuk menentukan alternatif pengadaan bahan baku komponen produksi dengan impor dari dalam negeri atau luar negeri atau mengajak pemasok internasional untuk investasi sehingga memungkinkan backward spillover dari FDI untuk lokal semakin sulit terjadi. Kehadiran dari FDI juga menghasilkan keuntungan ekonomi bagi suatu negara seperti aliran modal yang masuk, pengadaan lapangan kerja  baru, aliran devisa yang didapat dari pembelian produk ekspordan yang terpenting adalah adanya transfer ilmu untuk pekerja lokal dan knowledge spillover untuk ekonomi lokal melalui mobilitas tenaga kerja. Hasil dari implementasi kebijakan liberalisasi di Indonesia sendiri dapat dilihat pada tahun 1987 dan 1988, aliran FDI Indonesia naik dari US$ 1,52 ke US$ 4,411billion dan pada tahun 2004 mencapai US$23,724 billion.

Review Jurnal Foreign Direct Investment

How does FDI inflow affect productivity of domestic firms? The role of horizontal and vertical spillovers, absorptive capacity and competition

Kolasa Marcin

FDI dipercaya membawa dampak positif bagi perusahan domestik sehingga digunakan sebagai pertimbangan untuk mengurangi hambatan dalam pelaksanaan FDI, bahkan suatu negara sampai menawarkan kepada para investor keadaan yang menguntungkan pihak asing daripada untuk perusahaan domestik sendiri. FDI sendiri saat ini tidak hanya pada sektor barang, bahkan di banyak negara, jasa menjadi bagian FDI yang lebih besar daripada sektor manufaktur. Lalu bagaimana mekanisme dari spillover atas adanya FDI ini dapat terjadi? Berdasarkan literatur teoritis dikatakan bahwa ada beberapa mekanisme,
·         yaitu pertama, dengan adanya FDI, pihak domestik bisa mengupgrade teknologi dengan cara meniru proses dan produk dari perusahaan asing, juga sistem manajerial dan keorganisasian.
·         Kedua, karena adanya kompetisi dengan perusahaan asing yang masuk menyebabkan perusahaan domestik menjadi lebih efisien dalam berproduksi sehingga memperoleh keuntungan lebih.

Hubungan tingkat Inflasi dan pengangguran di Indonesia dari tahun 1980-2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar belakang
Semua Negara di dunia ini selalu dan pasti menghadapi masalah pengangguran dan inflasi.   Kondisi yang full employment merupakan kondisi ideal yang dinginkan oleh semua negara,  tapi  kondisi  tersebut  terlalu  banyak  rintangan  untuk  mencapainya.  Untuk mewujudkan  kondisi  ideal  untuk  perekonomian  Pemerintah  Indonesia  menggunakan kebijakan  fiskal  dan  moneter.  Pemerintah  di  satu  sisi  menginginkan  agar  tingkat pengangguran rendah tetapi tidak juga membuat tingkat inflasi bertambah tinggi.
Inflasi (inflation) adalah gejala yang menunjukkan kenaikan tingkat harga umum yang berlangsung terus menerus. Dari pengertian tersebut maka apabila terjadi kenaikan harga hanya bersifat sementara, maka kenaikan harga yang sementara sifatnya tersebut tidak dapat dikatakan inflasi. Semua negara di dunia selalu menghadapi permasalahan inflasi ini. Oleh karena itu, tingkat inflasi yang terjadi dalam suatu negara merupakan salah satu ukuran untuk mengukur baik buruknya masalah ekonomi yang dihadapi suatu negara. Bagi negara yang perekono-miannya baik, tingkat inflasi yang terjadi berkisar antara 2 sampai 4 persen per tahun. Tingkat inflasi yang berkisar antara 2 sampai 4 persen dikatakan tingkat inflasi yang rendah.  Selanjut tingkat inflasi yang berkisar antara 7 sampai 10 persen dikatakan inflasi yang tinggi. Namun demikian ada negara yang meng-hadapai tingkat inflasi yang lebih serius atau sangat tinggi, misalnya Indonesia pada tahun 1966 dengan tingkat inflasi 650 persen. Inflasi yang sangat tinggi tersebut disebut hiper inflasi (hyper inflation).

Kualitas air yang semakin memburuk akibat externalitas industri di surabaya pada tahun 2007-2009



·         Pendahuluan

Air merupakan barang yang ultra essential bagi kelangsungan hidup manusia yang klasifikasinya dapat digolongkan baik ke dalam sumber daya yang dapat diperbarukan maupun tidak terbarukan, tergantung pada sumber dan pemanfaatannya. Kontribusi air terhadap pembangunan ekonomi dan sosial juga sangat vital. Air juga memiliki nilai intrinsik dan pemanfaatannya memiliki nilai tambah karena dari ekstraksi sampai pemanfaatan langsung untuk konsumsi menimbulkan biaya yang cukup substansial. Air yang bersumber dari bawah tanah atau groundwater, misalnya, diperoleh melalui proses geologi selama ratusan bahkan ribuan tahun, sehingga meskipun memiliki kemampuan untuk memulihkan kembali (recharge rate) lewat hujan, jika jumlah yang dimanfaatkan melebihi kemampuan recharge, groundwater sering dikatakan sebagai sumber daya yang tidak terbarukan (Fauzi 2006)
Air yang ada di alam ini tidaklah statis tetapi selalu mengalami perputaran sehingga dalam jangka panjang air yang tersedia di alam selalu mengalami perpindahan. Jika kita perhatikan aliran siklus hidrologis air maka akan menggambarkan buangan dari penggunaan air akan kembali tersedia dengan jumlah yang relatif tetap. Dengan prosesnya yang stabil, air yang jatuh ke bumi akan meresap ke dalam tanah atau tersipan dalam kolam, danau atau sungai-sungai terlebih dahulu dalam jumlah yang cukup melimpah, yang kemudian dimanfaatkan oleh manusia. Apabila proses hidrologi ini terganggu, seperti kerusakan hutan, pemukiman yang padat, maka air yang jatuh ke bumi akan menguap kembali ke atmosfir atau mengalir langsung ( run-off ) ke laut sehinga yang tersedia bagi manusia hanya sebagian kecil (seperti pada gambar 1) (suparmoko 1997)

Praktek Integrasi Ekonomi dan dampaknya pada Wal-Mart Stores, Inc dan Starbucks


Wal-Mart Stores , Inc


Profil
Wal-Mart Stores, Inc, adalah sebuah perusahaan retail multinasional Amerika yang menjalankan rantai department stores dan warehouse stores. Perusahaan ini adalah perusahaan publik terbesar kedua di dunia. Walmart merupakan bisnis milik keluarga, sebagai perusahaan yang dikendalikan oleh keluarga Walton, yang memiliki lebih dari 50 persen dari Walmart. Walmart  bermarkas di Bentonville, Arkansas. Walmart juga pengecer kelontong terbesar di Amerika Serikat. Pada tahun 2009, itu menghasilkan 51 persen dari US $ 258.000.000.000 penjualannya di AS. Walmart juga memiliki dan mengoperasikan gudang ritel Sam’s Club di Amerika Utara.

·         Berdasarkan jenisnya, Wal-Mart Stores, Inc ini termasuk dalam integrasi Horizontal karena Walmart disusun dalam tiga divisi:. Walmart Stores AS, Sam Club, dan Walmart International. Perusahaan ini melakukan bisnis di sembilan format ritel yang berbeda: Supercenters, makanan dan obat-obatan, toko barang umum, bodegas (pasar kecil), cash and carry stores, membership warehouse clubs, toko pakaian, soft discount stores dan restoran.

kebijakan harga kedelai dan Gabah/Beras di Indonesia

1.      Stabilisasi Harga Kedelai (SHK)
Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan yang sangat strategis . Kebutuhan kedelai dari tahun ke tahun semakin meningkat, namun Indonesia mengalami berbagai permasalahan seperti ketersediaan dalam negeri yang belum mencukupi, rata-rata baru mencapai sekitar 40 persen sehingga untuk memenuhi kekurangannya melalui impor.
·         sejak tahun 2002 pemerintah telah berupaya untuk menjaga stabilitas harga kedelai.
·         Pada tahun 2003 pemerintah telah menargetkan untuk tahun 2006 tidak akan melakukan impor kedelai terutama untuk kebutuhan industri, namun harus dipenuhi dari dalam negeri agar harga jual kedelai petani tidak jatuh.
·         pada Tahun 2005 bea masuk kedelai impor ditetapkan 10 persen, jauh lebih rendah dari usulan sekitar 30 persen.
·         Pada Tahun 2008, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menekan gejolak harga kedelai impor, yaitu  bea masuk dibebaskan, PPh impor turun dari 2,5 persen ke 0,5 persen, dan pemberian subsidi bagi bahan baku kedelai Rp 1.000/kg selama 6 bulan. Selain itu, mengingat produksi nasional kedelai masih rendah, pemerintah menargetkan alokasi dana Rp 1 triliun bagi pengembangan kedelai nasional yang akan digunakan untuk peningkatan produksi nasional kedelai menjadi 1 juta ton, dan pemberian bibit paritas unggul pagi petani.

Rabu, 24 Juli 2013

PEREKONOMIAN INDONESIA TAHUN 2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar belakang

Perekonomian Indonesia pada tahun 2012 menunjukkan kinerja yang cukup baik di tengah situasi perekonomian global yang masih dibayangi oleh berbagai ketidak-pastian, seperti prospek pemulihan ekonomi di kawasan Eropa (terutama di negara yang mengalami krisis hutang, yaitu Yunani, Italia, Irlandia, Potugal dan Spanyol) dan ancaman jurang fiskal (fiscal cliff) di AS akibat perbedaan sudut pandang dan kepentingan antara Pemerintahan Barrack Obama (Partai Demokrat) dengan Konggres yang didominasi oleh Partai Republik, terkait strategi kebijakan untuk meningkatkan penerimaan negara dari pajak, efisiensi pengeluaran negara terutama pengurangan pengeluaran untuk perlindungan sosial, serta batasan hutang dan defisit anggaran pemerintah AS. Krisis tersebut turut berimbas pada penurunan permintaan eksternal dan perlambatan aktivitas perekonomian di Asia, termasuk China dan India. Berbagai  permasalahan  ekonomi  dunia  yang  belum  sepenuhnya  dapat  diatasi ini mengakibatkan  pemburukan  ekonomi  global  yang  telah  terjadi  sejak akhir tahun 2011 masih berlanjut di tahun 2012.

Pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 ini sesuai dengan  yang diperkirakan oleh Bank Indonesia dalam Laporan perekonomian indonesia tahun 2011 tentang prospek dan tantangan perekonomian serta arah kebijakan bank indonesia, perekonomian Indonesia pada tahun 2012 diperkirakan tetap kuat dengan stabilitas makroekonomi yang tetap terjaga. Meskipun perekonomian global tumbuh melambat, perekonomian Indonesia diperkirakan masih akan tumbuh relatif tinggi, yaitu sekitar 6,3% - 6,7%.
Selama tahun 2012, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi walaupun volatilitasnya dapat dijaga pada tingkat yang lebih rendah. Secara rata-rata rupiah terdepresiasi sebesar 6,3% ke Rp9358 per dolar AS dari sebelumnya Rp8768. Sementara itu, secara point-to-point rupiah melemah sebesar 5,81% dan ditutup pada level Rp9638 per dolar AS dengan volatilitas yang lebih terjaga sebesar 4,3%.

REVIEW JOURNAL Mixed strategy game theory, application in forest industry Soleiman Mohammadi Limaei

1.      Tujuan Penulisan

Jurnal ini menggambarkan keadaan dua pabrik kertas besar di Iran yaitu Iranian Wood and Paper Industry (CHUKA) dan Mazandaran Wood and Paper Industry (MWPI) yang sama-sama membutuhkan bahan materialnya yaitu ampas kayu yang di peroleh dari hutan alam dan hutan komersial yang ditanam oleh petani lokal di daerah tersebut. Karena ampas kayu merupakan biaya produksi yang paling besar, maka sangat penting untuk kedua pabrik tersebut membeli bahan bakunya dengan harga yang rendah. Game theory dinamis digunakan untuk mengetahui struktur pasar di industri ini. Dalam setiap transaksi, setiap pabrik mempunyai dua kemungkinan strategi yang berbeda dalam menetapkan harga jual kertasnya. Tujuan dari penulisan jurnal ini adalah berapa harga yang harus ditetapkan oleh suatu pabrik, berapa harga optimal dari pemain lainnya dan  keseimbangan Nash untuk setiap pemain dimana situasinya adalah non-coorperative dan setiap pabrik harus selalu mengamati tindakan yang diambil oleh pabrik lainnya. Game theory menggunakan metode matematis untuk memilih strategi yang optimal. Strategi harus dilakukan dalam menentukan pilihan untuk situasi apapun yang mungkin terjadi. Kombinasi strategi yang berbeda memberikan payoff yang berbeda pula untuk setiap pemain. Dalam penelitian ini digunakan “mixed strategy game theory” yang merupakan gabungan dari berbagai strategi yang bisa dipilih oleh setiap pemain

2.      Metodologi penelitian

Data numerik dikumpulkan dari dua pabrik kertas di Iran tersebut, yaitu CHUKA dan MWPI yang membeli bahan baku dari hutan alam dan hutan komersial di Iran. Daerah hutan komersialnya sekitas 1,9 juta hektar. MWPI pabrik kertas terbesar dengan kapasitas 175.000 ton per tahun sedangkan  CHUKA pabrik terbesar kedua dengan kapasitas 150.000 ton per tahun. Tabel berikut merupakan harga ampas kayu sejak tahun 1998 sampai 2008

REVIEW ARTIKEL ILMIAH BIDANG EKONOMI Analisis Dampak Subsidi Pangan (raskin) Terhadap Tingkat Pendapatan Rumah Tangga dan Sektor Perekonomian Indonesia (Pendekatan Analisis SNSE Indonesia Tahun 2008)


Pangan merupakan kebutuhan dan hak asasi manusia yang utama dan harus mendapat perhatian yang penting. Konsep ini yang mengharuskan pemerintah menjamin ketersediaan dan distribusi beras serta stabilitas harga dengan memberikan harga yang terjangkau bagi golongan masyarakat miskin atau berpendapatan rendah sehingga kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan memberi subsidi pangan. Subsidi pangan diberikan dalam bentuk penyediaan beras murah untuk masyarakat miskin (raskin) melalui operasi pasar khusus (OPK) beras bulog. Semakin meningkat alokasi APBN Indonesia untuk subsidi pangan mencerminkan masih banyaknya masyarakat yang hidupnya belum sejahtera. Meskipun presentase dan jumlah penduduk miskin cenderung menurun tiap tahunnya tapi jumlahnya masih besar dan kemiskinan tersebut sangat berkaitan erat dengan rendahnya pendapatan masyarakat.
Pendekatan yang digunakan
Pendekatan yang digunakan untuk menganalisis pengaruh kebijakan subsidi pangan terhadap tingkat pendapatan rumah tangga dan pengaruhnya terhadap sektor perekonomian adalah dengan menggunakan Social Accounting Matrix (SAM) atau sering juga disebut Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE). SNSE merupakan salah satu perangkat data ekonomi makro yang dapat mengukur masalah pemerataan pendapatan. SNSE dirancang untuk menunjukkan gambaran secara menyeluruh antara struktur produksi, input faktor produksi alokasi pendapatan faktor produksi, komposisi permintaan atas barang dan jasa, serta tabungan sebagai sumber investasi. Untuk mengetahui dampak dari kebijakan subsidi pangan terhadap perubahan tingkat pendapatan rumah tangga maka metode analisis data menggunakan perhitungan pengganda global, matriks pengganda dan estimasi analisis dampak.

PROPOSAL UNTUK SKRIPSI S1 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN; PERKEMBANGAN INFLATION TARGETING FRAMEWORK SEBAGAI KERANGKA KEBIJAKAN MONETER INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
  Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia telah membawa perubahan mendasar pada perumusan dan pelaksanaan kebijakan moneter Indonesia, karena dengan adanya undang-undang tersebut maka kebijakan moneter di Indonesia diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan. Dengan berlakunya UU tersebut maka sejak tahun 2000 indonesia secara resmi telah mengadopsi kerangka kebijakan moneter inflation Targting. Walaupun terjadi amandemen Undang-undang Bank Indonesia menjadi UU No.3 tahun 2004, tetapi sasaran akhir kebijakan moneter tetap pada stabilitas inflasi. Perbedaannya adalah penetapan inflasi harus dilakukan dengan koordinasi dari pemerintah. Setelah berkoordinasi dengan pemerintah, Bank Indonesia dalam publikasi BI telah menetapkan dan mengumumkan sasaran inflasi IHK untuk tahun 2006, 2007, dan 2008 masing-masing sebesar 8% ±1%, 6% ±1%, dan % 5,0%±1%.

LIBERALISASI PERDAGANGAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP KOMODITAS PERTANIAN INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar belakang
Konsep  dasar  perdagangan  bebas  adalah  penghilangan  hambatan-hambatan dalam    perdagangan  internasional,  namun  yang  menjadi  problema  adalah  bahwa perdagangan  bebas  dalam  sistem  multilateral  WTO  terhambat  dan  tidak  berjalan dengan  baik,  sehingga  mulailah  negara-negara  membentuk  blok-blok  perdagangan dengan  tujuan  meraih keuntungan langsung dan memajukan pertumbuhan ekonomi regional lebih maju dan berkembang. Blok-blok perdagangan ini dibentuk untuk  mewujudkan  kawasan  perdagangan bebas  dengan  menghilangkan  atau  mengurangi  hambatan-hambatan  perdagangan barang  baik  tarif  maupun  non-tarif.  Peningkatan  aspek  pasar  jasa,  peraturan  dan ketentuan  investasi,  sekaligus  peningkatan  aspek  kerjasama  ekonomi  untuk mendorong  perkonomian  para  pihak  dalam  rangka  meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Secara khusus, keterlibatan Indonesia dalam perjanjian perdagangan bebas ini perlu untuk dicermati lebih lanjut. Hal ini terkait dengan banyak faktor seperti kesiapan produk dalam negeri menghadapi serangan barang impor, serta potensi pasar yang menjadi berkurang. Terlebih lagi kesiapan komoditas pangan Indonesia saat ini.

Perkembangan perdagangan internasional mengarah pada bentuk perdagangan yang lebih bebas yang disertai dengan berbagai bentuk kerjasama bilateral, regional dan multilateral. Perundingan  bidang  pertanian  dalam  forum  kerjasama  multilateral  diwadahi oleh badan dunia World Trade Organization (WTO) dimana badan dunia ini didirikan karena adanya General Agreement on Tariffs and Trade (GATT), persetujuan setelah Perang  Dunia  II  untuk meniadakan  hambatan  perdagangan  internasional. Sejalan dengan  hal  tersebut,  kerjasama  antara  negara  berdekatan  secara  regional  muncul dimana-mana seperti AFTA (ASEAN Free Trade Area), NAFTA (North America Free Trade  Agreement),  EU  (Europe Union), MERCOSUR  (the  Southern  Part  of  South America), CARICOM (Central America) dan lain-lain. Salah satu tujuan utama perjanjian perdagangan internasional adalah berupaya mengurangi atau menghilangkan hambatan perdagangan. Liberalisasi perdagangan dunia dengan pola kerjasama internasional memberikan implikasi yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.

RESUME JOURNAL FINANCIAL INTERMEDIATION BY GARY GORTON AND ANDREW WINTON

I. Pengenalan
            Intermediasi keuangan adalah fitur meluas dari semua negara di dunia tetapi menurut  Franklin Allen (2001) ada pandangan luas bahwa perantara keuangan dapat diabaikan karena tidak memiliki efek yang nyata. Mengapa perantara keuangan penting? Salah satu alasannya adalah proporsi yang luar biasa dari setiap dolar yang dibiayai eksternal berasal dari bank. Pinjaman bank adalah sumber utama pendanaan eksternal di semua negara. Tidak satu pun dari negara-negara pasar modal signifikan sumber pembiayaan. Sebagai sumber utama pendanaan eksternal, bank memainkan peran penting dalam tata kelola perusahaan, terutama selama masa kesulitan dan kebangkrutan pada perusahaan. Konsumen menggunakan deposito bank sebagai media pertukaran namun fakta bahwa konsumen bisa mencairkan dananya setiap saat menyebabkan kepanikan perbankan di beberapa negara, secara historis, dan di banyak negara baru-baru ini.
            Pada dasarnya, Jasa keuangan adalah akar lembaga dalam proses tabungan-investasi. Istilah "meminjam" dan "meminjamkan" berarti bahwa kontrak yang terlibat adalah kontrak utang. Jadi, perantara keuangan memberikan pinjaman kepada sejumlah besar konsumen dan perusahaan menggunakan kontrak utang dan mereka meminjam dari sejumlah besar agen menggunakan kontrak utang juga.
            Ada sejumlah isu dalam mempelajari intermediasi yang mungkin unik, dibandingkan dengan lain bidang keuangan. Yaitu ada isu-isu data dan dalam studi intermediasi keuangan, lembaga, peraturan, dan hukum adalah penting. Sistem perbankan telah dipengaruhi oleh hukum dan peraturan selama ratusan tahun dan sulit untuk membuat kemajuan dalam banyak hal tanpa memahami variasi besar dalam struktur sistem perbankan di seluruh negara dan waktu, yang karena undang-undang dan peraturan.
            Akhirnya, intermediasi dalam keadaan terus-menerus berubah sehingga tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa banyak peneliti dalam intermediasi keuangan tidak menyadari bahwa mereka terlibat dalam sejarah ekonomi

PENERAPAN SIFAT FATHONAH DALAM PROFESI SEBAGAI MENTERI KEUANGAN NEGARA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Rasulllah merupakan teladan umat yang rahmatan lil’alamin sebagaimana ajaran Islam yang dibawanya, pemberi pencerahan pada kehidupan manusia. Nabi Muhammad Tidak hanya menjadi seorang pemimpin dalam bidang agama saja Nabi Muhammad juga menjadi pemimpin dalam bidang perekonomian, sosial, dan pendidikan. Kesuksesan Nabi Muhammad sebagai seorang pemimpin umat memang telah dibekali kecerdasan oleh Allah SWT. Kecerdasan dibekalkan karena beliau mendapat kepercayaan Allah SWT untuk memimpin umat, karena agama Islam diturunkan untuk seluruh manusia dan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kecerdasan juga diperlukan untuk memahami dan menjelaskan wahyu Allah SWT Oleh karena itu diperlukan pemimpin yang cerdas yang akan mampu memberi petunjuk, nasihat, bimbingan, pendapat dan pandangan bagi umatnya, dalam memahami firman-firman Allah SWT.
Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik  yang    mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari kemudian (QS Al-ahzab [33]:21
Kecerdasan (dalam bahasa inggris disebut intelligence dan bahasa Arab disebut al-dzaka) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (al-qudrah) dalam memahami sesuatu sevara cepat dan sempurna. Begitu cepat penangkapannya itu, sehingga Ibnu Sina menyebut kecerdasan sebagai kekuatan intuitif. Kata kecerdasan diambil dari kata cerdas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cerdas berarti sempurna perkembangan akal budi seorang manusia untuk berfikir, mengerti, sebagainya, tajam pikiran dan sempurna pertumbuhan tubuhnya.
Fathonah merupakan salah satu sifat wajib yang dimiliki oleh seorang Rasul. Fathonah berarti cerdas atau bijaksana, mustahil seorang nabi bersifat baladah atau jahlun (bodoh). Sifat fathanah dapat dipandang sebagai strategi hidup setiap Muslim. Seorang Muslim harus mengoptimalkan segala potensi yang telah diberikan oleh-Nya untuk mencapai Sang Kholiq. Potensi paling berharga dan termahal yang hanya diberikan pada manusia adalah akal (intelektualitas). Dan Allah SWT. bahkan memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya,

ESSAY EVALUASI PROYEK; SURPLUS KONSUMEN HIKSIAN DALAM MENGUKUR WELFARE ECONOMICS

Analisis  dasar tentang  ekonomi  kesejahteraan  pada  prinsipnya  tetap sama  sejak pertama  lahir pada pertengahan 1970-an hingga sekarang. ilmu  ini telah membangun  landasan ilmu  ekonomi  lingkungan serta  analisis  manfaat  biaya.  Karya-karya para ekonom akhir-akhir ini berusaha  mengintegrasikan  konsep-konsep  psikologi,  khususnya  divergensi yang ditemukan  dalam  penggunaan  konsep-konsep Hicks  tentang  variasi-variasi  kompensasi dan  ekuivalen  (compensating  and  equivalent  variations  =  CV  and  EV),  dua  ukuran mengenai  surplus  konsumen. Secara teoretis, kedua ukuran itu hampir sama. Sedangkan dalam praktiknya bahwa ”kesediaan untuk menerima kompensasi” untuk mentolerir kerugian kesejahteraan jauh  melampaui  ”kesediaan  untuk  membayar”  demi  perbaikan  lingkungan  yang ekuivalen (Pearce, 2000b: 1143).
Ekonomi Kesejahteraan (Welfare Ecomics), adalah kajian ilmu ekonomi tentang bagaimana  melakukan  sesuatu  dengan  cara  yang  terbaik,  atau  optimal,  dalam mengunakan  sumber-sumber  yang  terbatas  (Pearce,  2000b:  1141). Sehingga, kuncinya  adalah  “optimalisasi”  dan  ”kesejahteraan  sosial”.  “Optimalisasi” didefinisikan  dalam  pengertian  maksimalisasi  kesejahteraan  sosial. Sedangkan ”kesejahteraan  sosial” diartikan  sebagai  jumlah  kemakmuran  semua  anggota  dari masyarakat  tertentu. Untuk  menyatakan  bahwa kesejahteraan  seseorang  meningkat,  berarti  bahwa  peningkatan  kesejahteraan  seseorang  tersebut  telah  terjadi tanpa  diikuti  dengan makin memburuknya keadaan  kesejahteraan  orang  lain. Dengan demikian,  kesejahteraan  sosial meningkat,  bila  setidak-tidaknya  ada  satu  individu  yang meningkat  kesejahteraannya,  dan  tidak  ada  individu satupun  yang  mengalami  penurunan kesejahteraan  (Pearce,  2000b:  1142).

Minggu, 18 November 2012


Chapter 3: Big and Small Cities

One of the purpose of this chapter is to provide some insight into why cities vary in size and scope, addressing the question Why aren’t all cities the same size?

LOCALIZATION ECONOMIES AND INDUSTRY CLUSTER
The clusteering is puzzling because dispersing into separate territories would reduce competition for worker and perhaps brings firms closer to their dispersed costumers. There are some subtle benefits from clustering: sharing the suppliers of intermediate inputs, sharing a pool of labor, and sharing information. The label these external economies is “localization economies” indicating that the cost savings occur only for local firms
Sharing Input Supplier
Some industry clusters occur because firms in a particular industry buy an intermediate input from the same supplier. Firms will cluster around a common input supplier if two condition are satisfied:
1.      The input demand of an individual firms is not large enough to exploit the scale economies in the production of the intermediate input.
2.      Tansportation cost are relatively high. Similiarly, if the intermediate input is bulky, fragile, or must be delivered quickly, proximity is important.
There is evidence of clustering based on input sharing. If a firm face  uncertain and rapidly chaning demand for its product, it will be small and agile, and will have an incentive to share input supplier.
Sharing a Labor pool: varying Demand for Labor
A firm faces two sorts of questions about its future labor demand:
1.      How many workers will we hire?
2.      What sort of labor skill will we need in our workers?
If a firm is uncertain about the quantity of workers it will hire or the skills of its workforce, it will have an incentive to cluster around other firms and draw from a common labor pool. Eventually, the workers in the unsuccessful firms will move to the succcessful one. Worker also can easily switch to a different firm in the city
Benefits and Costs of Labor pooling
Consider a software firm that has two equally likely outcomes in a particular year: good times or bad times. In good times the price of its product is high, so the firm has a relatively high demand for labor. In bad times the price of its product is low, so the firm has a relatively low demand for labor.
Consider the trade-offs associated with moving the firm from the isolated site to the industry cluster with the labor pool, the benefits of moving to the cluster is that during good times, the firm would pay a lower wage and earn more profit.
Sharing a Labor pool: Matching
Consider next issue of uncertainty about what sort of job skills a firm will require. Although a firm probably knows what sorts of labor skills it needs this year uncertainty about the future demand for its product and future production technology causes uncertainty about the firms future needs for labor skills. A large labor pool near an industry cluster provides a wider variety of skills for firms to tap.
Sharing information: knowledge spillovers
A city provides opportunities for intyeractions among people with common interest and thus promotes creative thought. There is evidence that knowledge spillovers encourage industry clustering . knowledge spillovers increase number of new plants births, with the largest effect on industries that employ college. knowledge spillovers are strongest in industries with many small, competitive firms.

URBANIZATION ECONOMIES
Urbanization economies differ from localization economies in two ways. First, urbanization economies result from the scale of the entire urban economy. Second, urbanization economies generate benefits from firms throught the city. They are similar to localization economies in the sense that they arise for the same reasons
1.      Intermediate inputs. Firms from different industries share the suppliers of intermediate inputs, allowing the realization of scale economies in the provision of business services.
2.      Labor pooling.  If  fluctuations in the labor demands of different industries are not correlated, workers in a declining industry can easily switch to a growing industry
3.      Sharing information. The knowledge spillovers lead to innovation in product design and production methods.
EVIDENCE OF EXTERNAL ECONOMIES
In searching for evidence of localization economies, researchers focus on the effects of industry concentration on (1) worker productivity, (2) the number of new production plants, (3) growth in industry employment.

Evidence of Localization Economies
Localization economies as the elasticity of output per worker with respect to industry output, defined as percentage change in output per worker divided by the precentage change in industry output. Agglomeration effects in the office sector  are much more powerfull than those in manufacturing. In addition, the agglomeration effects are largest in the area of the city where the increase in office employment occurs. The benefits associated with localization economies fall rapidly with distance.
The Incubation Process
Localization and urbanization economies are responsible for the incubation process. Product cycle theory of industrial location: product are developed by small firms in areas that allow sharing of inputs and knowledge spillover. When the product becomes standardized, the firm can produce it on a larger scale in its own production facilities.

DIFFERENCES IN CITY SIZE
In this chapter, we’ve seen why some types of firms cluster in cities
Localization Economies
Industries vari in the strength of their localization economies. Some industries experience subtantial cost savings from input sharing, labor poolong and information spillovers, while others experience relatively small cost savings. The stronger the localization economies, the greater the incentive for firms to form an industry cluster with large concentration of employment.
Urbanization Economies
Consider next the role of urbanization economies, the spillover benefits that result from the scale of the entire metropolitan area not just a particular industry. Firms in an industry subject to urbanization economies are attracted to large metropolitan areas and this tend to make large cities larger.
The Role of Consumer Goods
in fact, workers in a city spend some of their income on consumer product provided within the city. The jobs supported by local consumer spending is often labeled local employment. Some product are available in all cities, large, medium, and small. If product has large per capita demand relative to scale economies in production, even a small city will generate enough demand to support a firm producing the product.

AGGLOMERATION ECONOMIES IN MARKETING: SHOPPING EXTERNALITIES
A shopping externalities occurs if the sales of one store are affected by the location of other stores. These shopping externalities cause firms selling related product to form retail clusters. Some retail cluster cause the development of market cities. Other clusters within large cities, generating downtown shopping areas, malls, and shoping centers. There are two types of product that generate shopping externalities: imperfect substitutes and complement.
Imperfect Substitutes
Two goods are imperfect substitutes if they are similar but not identical. For these goods, the clustering of firm selling similar product decrease shopping cost and attracts potential buyers. Some retailers cluster in the city center, while others cluster  in shopping centers and malls.
Complementary Goods
Complementary goods are often purchased on the same shopping trip. The shoe store will benefit from the presence of the pants store because together they provide one stop shopping for consumers. Because of the benefit of one stop shopping, firms selling complementary goods cluster in shopping centers.

INNOVATIONS IN TELECOMUNICATIONS AND THE FUTURE OF CITIES
An improvement in telecomunications has two effects on the number of face to face contacts
·         In a given relationship, some face to face encounters will be replaced by telecomunication: An investment banker could e-mail a client instead of meeting her for a brief conversation; the banker could fax a contract instead of delivering it by hand
·         Easier communication may increase the number of relationships. An investment banker could consult with more people in the process of evaluating the merits of particular project; the banker could handle more projects.
Innovations in telecommunication technology will not cause cities to didappear because some activities require face time, so there will always be a need for cities and the physical proximity they provide.
A shopping externality occurs if the sales of a perticular store oncrease as other retailer move closer to the store. These agglomerative economies in marketing cause the clustering of retailers.